SELAMAT DATANG SOBAT !!!! Terimakasih telah berkunjung ke ABADIORKES

1.20.2015

NOVEL INVESTIGASI MATANG ROWLING


Nama samaran dan tokoh utama masih sama di novel investigasi kedua. JKR hampir terjebak mencitrakan tokoh pendukung. Tidak ada nuansa mistik, sebaliknya kental dengan intrik disertai romansa dan nilai kemanusiaan.


Minggu basah, Cormoran Strike, detektif swasta Inggris, menyisir daerahTalgarth Road, London. Rumah-rumah berarsitektur batu-bata merah berjejer di kanan-kiri jalan. Strike mulai mengurut nomor rumah satu persatu, hingga menemukan nomor 179, rumah yang ditujunya.


Pintu depannya berkanopi bata yang dipenuhi ukiran batu tua. Sambil berjalan menuju pintu rumah, Strike merogoh kantung jaketnya, lalu mengambil gulungan kunci-kunci untuk dicobanya satu per satu. Saat ceklikan kunci keempat, pintu akhirnya terbuka.



Baru satu centimeter pintu terbuka, celah pintu menyembur anyir uap zat kimia dan menusuk indera penciumannya. Strike berjalan pelan, meraba-raba dinding, mencari stop kontak. Saat ditekan, dua bola lampu tanpa tudung yang tergantung di langit-langit ruangan, menyala terang.



Ruangan itu berdinding panel kayu sewarna madu. Tiang-tiang beton menyangga langit-langit bangunan. Sementara lantainya penuh dengan siraman bercak-bercak nan pucat, mengelupas vernis kayu. Tanpa sadar, Strike menginjak tumpukan surat yang ditujukan pada penghuni rumah.


Saat memungutnya, ternyata kertas-kertas yang ditulis tangan itu berasal dari tentangga sebelah, yang memprotes bau menyengat dari dalam rumah. Strike menjatuhkan kembali surat-surat itu lalu melangkah masuk. Strike menaiki anak-anak tangga menuju lantai atas.



Strike memantau bercak korosif zat kimia di setiap anak tangga. Sampai pada puncak anak tangga, bau semakin mencekik esofagusnya. Lalu Strike melaju ke lantai kedua. Bau yang dihirupnya semakin tajam. Bukan saja bau zat kimia, tetapi bau amis dan busuk.



Akhirnya Strike sampai di depan pintu dengan bercak terakhir. Strike memutar daun pintu dan mendorongnya perlahan. Saat mencoba masuk, Strike mendengar, lalat-lalat mendengung kencang di sektiar objek yang menyerupai bangkai.



Dengan bantuan sisa-sisa cahaya dari luar yang masuk melalui jendela, Strike melihat, gerowong tanpa isi perut, mirip hewan yang baru disembelih. Bangkai yang masih mengenakan baju itu, teronggok di atas ubin. Saat Strike mendekatinya, mayat tersebut adalah seorang laki-laki dengan janggut tipis yang menguning.



Kedua tangannya masih terikat, dan tubuhnya dipenuhi zat asam. Bagian torsonya terbelah dari leher hingga bawah perut. Ususnya lenyap. Satu biji matanya tanggal membentuk kawah kecil. Di sektiar mayat, Strike melihat 7 piring dan 7 set peralatan makan berbaris melingkar.



Strike menajamkan mata, menahan nafas dalam-dalam. Rasa mual telah di ubun-ubun, serasa hendak muntah. Strike mengambil gambar dengan kameranya, lalu menelepon 999. Dengan langkah tergesa-gesa, Strike segera menuruni tangga menunggu kedatangan polisi.



***



Pembunuhan Owen Quine dilakukan dengan cara yang cerdas. Pertama-tama, pembunuh merancang konstruksi masalah dengan melibatkan orang-orang di sekitar Owen. Kedua, menghubungkan novel Bombyx Mori dengan kematian Owen.



Sang pembunuh mempersiapkan novel tersebut jauh hari. Isinya adalah penghinaan terhadap orang-orang dekat Owen. Tujuannya, agar mereka seolah-olah mempunyai motif untuk membunuh Owen. Hanya saja, terkuak bahwa novel itu ternyata bukan novel yang ditulis oleh Owen.



Siapa-siapa saja orang dekat owen yang ditulis dalam Bombyx Mori?



Pertama, adalah Leonara Quine, isteri Strike. Dalam novel, Leonara diibaratkan sebagai Succuba, pelacur basi. Karakter Succuba adalah wanita yang kurus, lesu dan berkacamata, mirip dengan nasib Leonara. Kedua, Kathryn Kent, selingkuhan Owen. Kent berperan sebagai Harpy, yang tinggal di gua tikus.



Perkenalan Owen dan Kathryn bermula ketika Kat mengikuti kelas materi pelatihan penulisan Owen. Sejak saat itu Owen dan Kathryn memadu hubungan dan berujung pada perselingkuhan. Padahal Kathryn tahu, bahwa Owen sudah memiliki anak dan isteri. Dari hasil investigasi Strike, Kathryn bahkan memiliki kartu kredit Owen.



Ketiga, Elizabeth Tassel. Agen Owen lulusan Oxford ini digambarkan sebagai makhluk kutu, yang bernama Tick. Hewan ini bersifat parasit. Rahangnya persegi, suara dalam dan menakutkan. Tick punya kebiasaan menyedot susu Bombyx saat tidur, sehingga Bombyx menjadi kurus dan lemah.



Lalu keempat adalah Daniel Chard, CEO Roper Chard yang menerbitkan novel-novel Owen. Di dalam novel itu, Daniel diibaratkan sebagai Phallus impudicus, nama latin untuk jamur beracun dan busuk. Bentuknya seperti kenop pintu karatan.



Selanjutnya, ada Jerry Waldegrave, editor buku Owen. Pria ini hobi minum alkohol hingga mabuk. Strike berhasil mengungkap hubungan gelap Jerry dan Kathryn Kent sebelum mengungkap kematian Owen. Lalu ada Christian Fischer, bagian penerbit dan Michael Fancourt, penulis kompetitor Owen.





Lalu siapa yang membunuh Owen?



Sebelum menemukan jasadnya, isteri Owen, Leonara menduga suaminya hilang. Perempuan tersebut lalu menghubungi Strike Cormoran untuk mencari suaminya. Permintaan tersebut diterima Strike meskipun tanpa tarif karena merasa iba melihat kondisi Leonara.



Dalam pencariannya, mantan anggota cabang khusus Angkatan Darat ini sempat putus asa dan hampir mengurungkan niat untuk mencari Owen. “Sudah gratis, susah lagi nyarinya. Aduh,” begitulah gerutu Strike yang tergambar dalam novel ini.



Di ujung asa, muncul titik terang. Strike berhasil menemukan dan membaca novel Bombyx Mori yang dikirim ke orang-orang dekat Owen. Apalagi, Strike semakin tertantang saat mengetahui bahwa Owen meninggal dengan beragam keganjilan. Akhirnya Strike memutuskan untuk memecahkan kasus kematian Owen.



Dari pencarian data dan bukti-bukti, Strike menemukan beberapa fakta. Pertama, beberapa hari sebelum meninggal, Owen dan Eliizabeth sempat bertemu di sebuah café. Keduanya, berdasarkan hasil pengakuan pelayan cafe, tampak berdebat kusir. Pelayan tersebut mendengar mereka membicarakan soal Bombyx Mori (Bahasa Indonesia: Ulat Sutra).



Kedua, Strike menemukan fakta bahwa naskah Bombyx Mori yang dikirim ke orang-orang dekat Owen, bukan ditulis oleh Owen sendiri. Elizabeth ternyata sudah mempersiapkan novel Bombyx Mori untuk mempertegas pertunjukkan pembunuhan Owen.



Dalam novel palsu tersebut, Elizabeth membongkar kebusukan orang-orang dekat Owen, dan Owen sendiri. Novel palsu dikirim melalui email dan pos. Sementara, novel asli Bombyx Mori yang ditulis oleh Owen, disembunyikan bersama dengan potongan-potongan organ Owen.



Eksekusi pembunuhan bermula ketika Elizabeth mengajak Owen bertemu di rumah warisan Joe North –penulis kawakan yang meninggal karena HIV AIDS – di Talgarth Road. Saat itu hanya mereka berdua di dalam. Tanpa ragu, Elizabeth menghantam kepala Owen dengan penahan pintu yang terbuat dari besi.



Pembunuhan terjadi saat pesta perayaan api unggun yang berlangsung semarak, sehingga tidak mengundang kecurigaan. Setelah mengeluarkan usus Owen, Elizabeth membawanya dengan tas bersama naskah asli Bombyx Mori. Setelah itu, naskah palsu yang telah ditulisnya, disebar ke orang-orang dekat Owen.



Motif pembunuhan, adalah balas dendam dan asmara. Selama ini, Owen kerap memeras Elizabeth, meminta uang sesuka hati kepadanya. Sementara Liz, sebagai agen yang telah lama bersama Owen, tidak bisa kabur dari Owen karena mencintainya.



Keberhasilan Strike mengungkap kasus pembunuhan Owen tidak terlepas dari kontribusi Robin Venetia, asisten Strike. Misalnya saja, saat Robin berhasil menemukan beberapa salinan asli Bombyx Mori yang diperoleh dari anak tunggal Owen, yaitu Orlando.



Pengungkapan kasus ini bukan tanpa hambatan. Bukti-bukti yang ditemukan Strike beberapa kali berbenturan dengan hasil penyelidikan polisi. Strike semakin berang ketika penegak hukum menetapkan bahwa pembunuh Owen adalah Leonara. Untungnya, Strike dapat membuktikan bahwa pembunuh sebenarnya adalah Elizabeth.



Selain investigasinya yang kuat, novel ini juga menyajikan sisi-sisi kemanusiaan (human interest) dan cerita romansa. Dari sisi kemanusiaan, penulis menggambarkan penderitaan Leonara. Sebagai isteri Leonara tertekan, memiliki anak yang berkebutuhan khusus dan suami yang selingkuh.



Sedangkan di sisi romansanya, penulis menceritakan kisah nostalgia, hubungan Strike dan pacarnya, Charlotte. Hubungan keduanya kandas setelah menjalani masa pacaran selama 16 tahun. Meskipun berjiwa militer, Strike tetap seorang lelaki yang membutuhkan cinta dari seorang wanita.



Seperti mencari pelarian, Strike mulai menaruh perasaan dengan Robin. Begitupun Robin yang lambat laun menaruh perhatian padanya. Masalahnya, Robin terlanjur bertunangan dengan Matthew Jhon Cunliffe. Inilah polemik kisah romansa Strike.



Joanne Kathleen Rowling (JKR) berhasil mewakili tokoh utama Cormoran Strike dengan apik sekali lagi, di novel yang berjudul The Silkworm (Ulat Sutra) ini. JKR juga masih menggunakan nama penulis samaran yang sama yaitu Robert Galbraith, seperti pada novel JKR sebelumnya, yang berjudul The Cuckoo’s Calling (Dekut Burung Kukuk).



The Silkworm berhasil mendeskripsikan setiap adegan dengan baik. Sudah barang tentu, pembaca lebih mudah masuk ke dalam konflik. Tak bisa dipungkiri, bahwa JKR memiliki kemampuan, mendeskripsikan kata-kata yang mengagumkan.



Sebagai catatan, di dalam beberapa bagian, JKR hampir terjebak dengan persoalan feminisme. Salah satunya, saat menceritakan tokoh Robin, asisten Strike. Dalam novel tersebut. JKR mencitrakan Robin secara vital. Hampir-hampir melampaui kekuatan karakter Strike. Untunglah, JKR tidak kebablasan sehingga The Silkworm tidak memunculkan 2 matahari, sebagai tokoh utama.



Dibandingkan dengan novel sebelumnya, yang berjudul The Cuckoo’s Calling, The Silkworm lebih matang. JKR menyajikan pembunuhan yang lebih sadis dan logis, dibandingkan kasus pembunuhan Lula Landry. Tidak berlebihan, jika pembaca bisa muntah ketika membayangkannya. Misalnya saja, JKR menggambarkan kondisi Owen Quine yang teronggok di lantai saat ditemukan Strike.



Di samping itu, novel ini menyajikan proses-proses sains dengan istilah-istilah biologi, sehingga menambah kompleksitas novel. JKR juga merinci hari demi hari sebelum dan sesudah terjadinya pembunuhan dalam konstruksi kronologis, sehingga pembunuhan tergambar lebih rasional dari segi waktu.



Hanya saja, jika novel ini nantinya akan difilmkan dan ditayangkan di Indonesia, akan banyak bagian-bagian yang disensor. Mulai dari cerita dewasa dan praktek pembunuhan sadis. Namun terlepas dengan benturan regulasi tersebut, yang perlu diperhatikan bahwa JKR masih kepikiran memunculkan sisi kemanusiaan yang bisa mengiris air mata.



Leonara, seorang ibu yang mempunyai anak berkebutuhan khusus dan seorang isteri yang memiliki suami tukang selingkuh. Parahnya lagi, Leonara dituduh membunuh suaminya dan harus menjalani pesakitan di penjara beberapa hari sebelum akhirnya, Strike berhasil mengungkap pembunuh Owen yang sebenarnya.



Kematangan novel investigasi JKR ini tidak terlepas dari kelihaian penterjemah, Siska Yuanita. Siska cakap memilih diksi-diksi sehingga, dapat dicerna oleh khalayak ramai, khususnya pencinta karya JKR. Terjemahan Siska juga berhasil memicu rasa ingin tahu pembaca untuk terus membuka halaman demi halaman. Tanpa sadar, saya pun sudah dua kali melahap buku setebal 536 halaman ini. Inilah yang disebut dengan hipnotis kata-kata.



Novel terjemahan ini semakin lengkap, dengan lampiran kutipan-kutipan di setiap awal bab dan saling berkorelasi dengan inti cerita. Pemilihan kutipan berasal dari seniman dan filsuf yang mendunia seperti, Thomas Dekker, Jhon Webster, William Congreve, Francis Beaumont, Philip Massinger, Thomas Middleton, Christopher Marlowe, William Shakespeare, Ben Jonson, Robert Greene, George Chapman, Thomas Kyd dan Jhon Lyly.



Kutipan yang paling menarik menurut saya ada di Bab 38 halaman 393, yang diambil dari naskah drama tragedi berjudul The White Devil karya Jhon Webster, tertulis, “Pada secarik kertas itu, tertulis bukti kehancuran.”



Judul: The Silkworm (Ulat Sutra)
Penulis: Robert Galbraith

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun: 2014

Jumlah halaman: 536 hlm.

Kota: Jakarta

1 komentar:

Jika ingin diskusi atau komunikasi lanjut, silahkan tinggalkan alamat e-mail teman.