Ada
seorang pangeran putra mahkota kerajaan termasyur di sebuah daerah yang cukup dan
makmur. Pangeran sebagai putra pewaris kerajaan satu-satunya, lantaran sang
raja hanya mempunyai satu anak dari keturunannya. Suatu hari, sang raja
bertanya kepada pengeran;”wahai ananda yang kukasihi! Apa yang akan kau perbuat
dengan rakyat kita, jika kelak aku telah berpulang dan meninggalkan mu
sendirian di kerajaan ini?
Sang
anak menjawab;”maksud ayahanda, apa?”
Apa
yang akan kau lakukan jikalau kau kelak menjadi raja dan memimpin rakyat kita
ini? Dan bagaimana saat rakyat kita dilanda musim kelaparan, bagaimana engkau
akan mengatasinya? tandas sang raja
Dengan
percaya dirinya, sang anak menjawab: “itu tidak mungkin ayahandaku. Kita punya
persedian makanan yang cukup. Dan saya
memiliki kebijakan dan strategi untuk mengatasi itu semua.Saya rasa itu
cukup untuk menghindari permasalahan di tengah-tengah rakyat kita nantinya ayah.”
Sang
raja hanya mengerutkan dahi, seakan mengisyaratkan bahwa kurang puas dengan
jawaban si anak.
Tibalah
berita duka terdengar ke pelosok daerah itu, dimana sang raja wafat dan
meninggalkan sang anak sendirian. Pangeran hanya bisa bersedih menangisi
kepergian sang ayah.
Kemudian
dengan tradisi, bahwa raja akan mewariskan semua kerajaannya kepada
keturunannya. Dan pangeran pun menjadi raja di kerajaan termasyur di daerah
itu.
Lalu,
ketika terjadi musim kelaparan, seluruh rakyat pun kalangkabut. Pengeran yang
menjadi raja mulai bertindak untuk mengatasi permasalahan ini dengan kebijakan
dan strategi yang telah ia rencanakan.. Namun, kenyataan yang diharapkan tidak
terjadi. Sehingga banyak rakyat meninggal. Dan kejadian yang membuat semakin
memilukan ialah musim kelaparan semakin berkepanjangan. Dan ini membuat rakyat
semakin tidak kondusif.
Tererjadi
perang dimana-mana. Pemberontakan yang semakin banyak. Di setiap sudut-sudut
daerah tersebut, terbaring mayat-mayat. di balik jerami terrdengar
jeritan-jeritan perempuan dan isak bayi.
Kerajaan
semakin kacau. Sang raja bingung, karena apa yang telah diperbuatnya, seperti
tidak ada gunanya. Ternyata kebijakan
dan aturan yang selama ini dilakukan, tidak sesuai lagi untuk diterapkan dalam
kepemimpinannya.
Kerajaan
pun runtuh oleh pemberontak-pemberontak. Dan daerah tersebut semakin terpuruk.
Suatu hal yang tidak
sesuai akan menimbulkan kontradiktif. Paradoks yang memilukan.
dan akhirnya semua
musnah.
Ketidakstabilan di
Tunisia
Memanasnya
kembali ‘Benua Hitam’ akhir-akhir ini, menjadi sorotan tajam di belahan dunia ini.
Jika dianalisis bahwa, yang menjadi permasalahan inti ketidakstabilan yang
terjadi di Afrika ialah kebijakan yang tidak memihak rakyat. Seolah-olah rakyat
hanya boneka yang tidak punya nurani,dan ahklak. Dan akhirnya timbulah percikan
yang memicu api kepahitan.
Dapat
kita lihat beberapa kasus negara-negara di Afrika. Salah satunya di negara
Tunisia. Dalam sebuah referensi mengatakan, bahwa Tunisia termasuk negara yang
maju diantara negara-negara lain yang ada di afrika. Ini didukukung dengan
pernahnya tingkat pengangguran yang tergolong kecil (sekitar 13%) jika
dibandingkan dengan negara Afrika lainnya. Kemudian di bidang pendidikan, Tunisia
digologkan yang terbaik di benua hitam tersebut. Negara eks-koloni Perancis
ini, juga memiliki dataran yang cukup subur.
Namun,
sekarang ini telah terjadi gejolak politik yang cukup tinggi jika kita saksikan dan dengar di
media-media. Unjuk rasa oleh sejumlah rakyat Tunisia menuntut kebijakan pemerintah Tunisia yang tidak lagi
memihak kepada rakyat jelata. Dan unjuk rasa besar-besaran pun tak terelakkan
lagi.
Dalam
unjuk rasa ini, berjatuhan puluhan korban. Suasana yang terbangun di Tunisia
sekarang ini jelas telah meresahkan pelbagai elemen masyarakat di Tunisia.
Kersusuhan
di negara yang 40%nya adalah padang pasir ini, tidak terlepas akibat terkena
dampak dari resesi perekonomian global dewasa ini. Tingginya biaya kebutuhan
hidup dan tingkat pengangguran yang semakin tinggi ditambah sifat ototirter
pemerintah, membuat rakyat ‘geram’.
Kemudian pemerintah mengeluarkan kebijakan
tentang penggunaan internet. Dimana blog-blog serta laman-laman dalam internet
yang diasumsikan pemerintah sebagai pembangkang, akan di proxy atau ditutup.
Hali
ini ditenggarai setelah adanya serang menyerang komentar yang terjadi antara
aktivis dan pemerintah di dunia maya. Analogi ‘si Anjing dan si Kucing’ pun
menjadi bentuk representasi dari serang menyerang antara aktivis dan pemerintah
di dunia maya tersebut.
Kalau
saja pemerintah lebih bijak, ‘adegan’ ini tidak akan terjadi jika kebijakan
pemerintah tepat. – mengakibatkan harga pangan dan tingkat pengangguran kian
meninggi.
Harusnya
kebebasan berpendapat dapat diatur lebih sistematis dan terpola, agar tidak
dijumpai lagi hal-hal yang seharusnya tidak terjadi terkhsus tentang kebebasan
berpendapat dalam dunia maya.
Kerusuhan
yang akhir-akhir ini terjadi di Tunisia, menewaskan setidaknya puluhan
demonstran. Peluru yang menembus tubuh dan serang menyerang serta baku hantam
menjadi pemandangan yang memilukan di dalam suatu bangsa.
Presiden
Zine al-Abidine Ben Ali pun mulai
melakukan pengantisipasian yang dengan berujung pada pemecatan menteri dalam
negeri untuk meredam aksi masa.
Selanjutnya,
jalan certita diteruskan dengan lengsernya tampuk kekuasaan Zine al-Abidine Ben
Ali, menjadi segmen konflik Tunisia
Sudan
Hal
serupa yang dialami Tunisia juga dirasakan oleh rakyat Sudan.
Kebijakan-kebijakan tokoh elit pemerintah, tidak lagi memihak kepada rakyat. Pemerintah
tidak dapat mengakomodir kepentingan rakyat. Fenomena pun timbul dan dibutuhkan
pengkajian serius dari pemerintah sehingga menjadi resolusi masalah yang dapat
segera direalisasikan. Salah satu fenomena ialah, adanya referendum Sudan
Selatan yang ingin memerdekakan diri dari Negara Sudan. Referendum pun
dilakukan dari tanggal 9 – 15 Januari.. Keinginan kuat dari Sudan Selatan untuk
melepaskan diri dari Sudan sangat responsif. Pemungutan suara di masing-masing
TPS berlangsung kondusif. Dan hampir 4 juta rakyat Sudan Selatan memiliki hak
suara.
Namun,
dalam konflik yang terjadi, ada hal yang menarik yang perlu kita perhatikan
bersama. Dalam konflik yang terjadi di Sudan. salah satu daerah di Sudan yaitu,
Abyei, daerah yang mempunyai luas sekitar 10.460 km2 ini, harus terkena dampak dari referendum
Sudan Selatan yang ingin merdeka. Dampaknya ialah, Abyei juga harus ‘ikut-ikutan’
melakukan referendum. Daerah yang menjadi
pemasok minyak terbesar di negara Sudan ini, harus dipaksa menentukan sikap
terhadap referendum yang dilakukan Sudan Selatan, disebabkan territorial daerah
ini memang terletak diantara dua kubu itu (sudan Utara dan Sudan Selatan).
Perbedaan
keyakinan juga menjadi salah satu unsur permasalahan timbulnya referendum Sudan
dan Abyei. Dimana, Sudan Utara ialah bermayoritas Muslim dan Sudan Selatan
bermayoritas Kristen membuat Abyei terdiri dari umat Muslim di bagian Abyei utara
dan umat Kristen di bagian Abyei selatan.
Melihat
potensi-potensi alam yang besar di daerah Abyei, mengindakasikan konflik serta
adu otot yang terjadi antara dua kubu itu. Perebutan hak milik terhadap Abyei,
menyebabkan dampak kronis kepada
rakyat sudan yang berdomisili di Abyei. Sudan Utara dan Selatan saling
mengklaim bahwa Abyei kepunyaan mereka. Ketidakjelasan posisi Abyei sekarang
ini, semakin memperparah. Sehingga tercetuslah untuk melakukan referendum
Abyei, yang juga akan dilakukan bersamaan dengan referendum Sudan Selatan.
cukup dilematis, konflik yang terjadi di Negara terluas di benua Afrika ini.
“Kebijakan-kebijakan pemerintah
yang tidak memihak rakyat, akan memicu timbulnya konflik dan pemberontakan. Dan
sudah hukum alam.”
Dibutuhkan Solusi
konkret di Tunisia
Dua
peristiwa yang terjadi di Benua Hitam, akhir-akhir ini, memang tidak lepas dari
kesalahan para pemimpin yang kurang memperhatikan aspirasi rakyatnya. Andaikata
pemerintah lebih bijak dan arif, tentunya hal seperti ini tidak akan muncul
kepermukaan. Sehingga timbulah gejolak yang menimbulkan konflik. Dan konflik
menstimulus baku hantam. Lalu baku hantam berujung pada jatuhnya korban. Dan jika
ini terjadi, siapakah yangakan bertanggungjawab? Lalu, dimanakah Hak Asasi yang
selalu dikumandangkan di seluruh penjuru dunia? Apakah sikap pemerintah Tunisia
dan sejauh mana strategi konkrit yang dilakukan pemerintah untuk menenangkan
rakyatnya yang sedang bergemuruh?
Konflik
yang terjadi di Tunisia, jika menelisik point
of main nya ialah permasalahan kenaikan harga kebutuhan hidup. Dan memicu
para aktivis bersuara dan menuntut kebijakan pemerintah yang ber-impact pada kenaikan harga kebutuhan
hidup serta tingkat pengangguran yang semakin tiinggi. Dalam proses beraspirasi
inilah, berjatuhan korban. Para demonstran yang mengaspirasikan suara rakyat,
harus dihujani peluru. Media mencatat, sekitar puluhan orang meninggal. Belum
lagi banyak korban yang harus sekarat dan terbaring di rumah infuse. Sangat mengenaskan sekali
peristiwa yang terjadi seperti ini. Pulahan mayat harus menjadi korban akibat
ulah pemerintah dalam menetapkan dan menerapkan kebijakan yang sepihak.
“Tidak
ada sebuah Negara yang menginginkan konflik kecuali konflik itu dibuat oleh
Negara itu sendiri.”
Zine el-Abidine Ben Ali (presiden
Tunisia), segera melakukan tindakan
dengan memecat menteri dalam negeri Tunisia, guna meredam kondlik yang terjadi.
Menteri dalam negeri dipecat lantaran konflik dalam negeri yang semakin
memburuk.
Keputusan presiden ini cukup tepat
dan sangat relevan, karena konflik di Tunisia ialah dilatarbelakangi suasana
dalam negeri yang goyang.
Memang tidak semerta-merta konflik
yang terjadi di Tunisia ialah kesalahan penuh pemerintah. Karena jika melihat
permasalahan ekonomi yang terjadi, tidak lepas dari efek krisis moneter dunia.
Dan disinilah sebenarnya kearifan dari pemerintah di uji ketika meresponi
fenomena global yang terjadi. Jika ini tidak cepat diantisipasi dan diredam,
maka reformasi besar-besaran bahkan revolusi, bukan tidak mungkin terjadi.
Pemerintah harus mawas terhadap peristiwa ini, dan segera mengambil langkah
konkrit dan menerima aspirasi rakyat dengan bijak, bukan malah menembaki rakyat
sendiri
Apakah referendum
adalah solusi?
Sedikit
berbeda percikan masalah dengan konflik yang terjadi di Tunisia, namun tetap
berujung kepada ketidakpuasan rakyat terhdap kebijakan pemerintah yang sepihak.
Referendum nasional di Sudan, jelas menjadi latarbelakang perang-perang saudara
serta melahirkan pemberontakan yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Sangat
disayangkan, mengapa nyawa-nyawa harus hilang bahkan dengan mengenaskan.
Referendum
Sudan Selatan yang sampai saat ini belum menemui kesimpulan. Ditambah lagi
perebutan daerah Abyei yang kian memanas antara Sudan Utara dan selatan, yang
cukup dilematis. Lalu apakah referendum bisa menjadi “obat pelipur lara”
rakyat?
Dalam
sebuah kesatuan dan persatuan dalam Negara, jika ada sebuah daerah yang ingin
memisahkan diri atau memerdekakan diri dari Negara asalnya, berarti memang
sudah timbul gesekan ataupun perbedaan pandangan yang cukup ‘kental’.
Referendum
hanya sebuah tindakan jalan buntu. Bisa dikatakan bukan solusi, namun pilihan
yang bersifat spekulatif. Tidak ada jaminan, bahwa setelah dilakukan referendum
Sudan selatan ataupun Abyei, akan mensejahterakan rakyat di daerah tersebut.
Karena masa transisi itu keras adanya dan butuh kerja keras untuk menormalisasikan
suasana dan keadaan.
Jika
pemerintah Sudan cukup cerdas, maka banyak alternatif lainnya yang bisa
dilakukan. Salah satunya pemerintah dapat mengadakan pendekatan intens dan
terpola. Dengan dilakukannya itu, pemerintah dapat mengetahui kesenjangan yang
sebenarnya sedang terjadi. Lalu dengan sigap menemukan solusi lalu
merealisasikannya.
Tetapi
pemerintah Sudan ternyata, memiliki pandangan lain yang mendukung kepentingan
meraka secara subjektif dan tidak bersifat objektif
Ini
sebenarnya bukan saja menjadi potret Benua Hitam sekarang, tetapi ini akan
menjadi permasalahan yang dapat terjadi dalam sebuah Negara di dunia ini yang semakin lama semakin
terlihat. Konflik yang terjadi di Sudan dan Tunisia hendaknya menjadi catatan
dan pembelajaran untuk kita semua. betapa berharaganya kesatuan dan persatuan.
Dan harus dijunjung tinggi segala perbedaan. Karena perbedaan itu indah pada
dasarnya dan bukan untuk dipertentangkan. Tinggal bagaimana seorang pemimpin
negara dapat melihat dan memeperhatikan aspirasi rakyat dengan tidak sepihak
dan berat sebelah, namun menuntut terhadap kearifan seorang pemimpin itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jika ingin diskusi atau komunikasi lanjut, silahkan tinggalkan alamat e-mail teman.